Apa yang dipikirkan perempuan tentang kecantikan?
siapa perempuan yang tidak ingin cantik?
lalu apa definisi cantik? bagaimana dan seperti apa perempuan yang disebut cantik itu?
iya.... kita tau semua perempuan ingin cantik. cantik adalah serangkaian kata untuk semuanya. apa maksutnya?
Aku banyak sekali menjumpai seseorang yang selalu berkata "dia cantik" jika
memenuhi kriteria dan standar cantik. entah siapa yang memberi standar
kecantikan pada wanita. apakah laki-laki atau perempuan itu sendiri. dan aku yakin, cantik pasti punya definisi sendiri di mata setiap orang
Jangan salahkan perempuan yang suka ke salon dan menghabiskan uang,
menghambur-hamburkan uangnya untuk barang yang dianggap tidak penting
oleh laki-laki, atau matre pada pacarnya.
Kalian harus tau sebabnya.. mereka ingin eksistensi. diakui sebagai perempuan 'cantik'.
sebab "Cantik itu luka" ? Iya itu adalah salah satu judul novel, tapi memang benar cantik itu luka.
Kalau aku ajukan pertanyaan pada anak-anak "manakah boneka yang paling
cantik?" mereka pasti menunjuk boneka barbie. tanpa kita sadari mereka juga sudah menstandarisasi kecantikan. apalagi dengan icon
kecantikan didunia maya yakni "Barbie". apa yang perlu ditakuti dari
standarisasi ini?
Semua orang diciptakan tuhan berbeda-beda,
maka jika mereka yang tercipta tak sesuai dengan standarisasi kecantikan
dan status 'cantik' itu akan mereka beli dengan harga berapa pun.
coba kamu lihat di google, icon barbie.
yang
kita temui adalah sosok boneka yang mempunyai wajah lugu, charming,
langsing, putih, kebanyakan berambut panjang,
berhidung mancung (?). intinya adalah tidak cacat sedikitpun, kecuali kamu merusak boneka itu haha.
Lalu kita lihat di film anime jepang.
ternyata
yang kita lihat juga sama dengan barbie, hanya anime selalu menampakkan
roman-roman muka yang selalu sempurna dan tetap terlihat cantik meski
anime itu sedang menangis, tertawa, sedih, berteriak, dan lainnya. semua
roman muka selalu terlihat perfect.
dan yang nyata adalah di drama-drama korea. aku yakin pasti kamu pernah melihatnya walaupun hanya sekilas.
Status sosial terkadang sangat berbahaya, banyak karena keadaan menjadikan
mereka memaksakan diri untuk mengikuti tren atau mode. tak hanya itu.
jika punya uang atau memaksa harus punya uang mereka akan memaksakan
diri untuk mencapai standarisasi status sosial tersebut. maka bersyukurlah dengan keadaanmu yang sekarang ini!
Senin, 01 Oktober 2012
Sabtu, 29 September 2012
Akhir pekan!
selamat malam! aku kembali di akhir pekan
aku tidak tahu jelas kenapa aku berada di sini, bermalas-malasan ria, aku hanya merasa blog ini sudah tak terurus, aku kangen menulis, aku kangen berbicara,, aku kangen... kamu. yah! karena kamu yang biasanya melakukan hal-hal yang aku kangen, hahaha.
mau bilang apa lagi ya? entah... aku bingung-_-
aku tidak tahu jelas kenapa aku berada di sini, bermalas-malasan ria, aku hanya merasa blog ini sudah tak terurus, aku kangen menulis, aku kangen berbicara,, aku kangen... kamu. yah! karena kamu yang biasanya melakukan hal-hal yang aku kangen, hahaha.
oke, mau cerita apa? terlalu banyak cerita, aku sampai lupa mau mulai
darimana hahaha di hari minggu lalu, aku takut sekali
menghadapi pekan ini, aku membayangkan aku yang akan sibuk sekali,
les sana sini. tapi di sisi
lain aku tahu, semuanya akan telalui dengan baik. Ada banyak karya Tuhan dalam sepekan ini
Sekarang juga sama, rutinitas les pun aku lakukan, dan aku menjadi... malas sekali,huffft.. tapi aku yakin ini akan terlalui dengan baik seperti pekan-pekan sebelumnya hahahaha
belakangan ini juga beberapa orang seperti tidak percaya dengan apa yang aku bicarakan, mungkin menurut mereka apa yang aku bilang tentang
mimpi hanya omongan belaka.. tapi percayalah! aku sedang dalam
perjalan mewujudkannya. tapi suatu hari aku akan sangat berterima
kasih kepada mereka, karena dengan "ketidakpercayaan dan anggapan remeh" mereka pada mimpi, aku semakin yakin...
mau bilang apa lagi ya? entah... aku bingung-_-
jangan lupa berdoa, jangan lupa bersyukur sama Tuhan.
Tuhan kita luar biasa, karena-nya kita bisa ada.. Jaga dirimu, sayangi dirimu..
oh iya jangan lupa, rayakanlah setiap akhir pekanmu, jangan kamu tangisi.
selamat malam.
Jumat, 28 September 2012
Manusia itu berubah, sangat cepat!
Hidup ini selalu berubah, terlalu cepat berubah malah. Pernahkah kita
luangkan waktu sejenak untuk menatap masa lalu? Menatap masa kecil
kita, menatap masa-masa
kita mulai belajar arti sebuah kedewasaan?
Teman-teman sering bertanya, “rus, kamu tu ga berubah ya dari dulu“ atau “rus, kok kamu tuh kok kayak anak kecil e ?“. Jika aku menoleh ke kanan-kiri, ternyata mereka memang tidak berbasa-basi. aku memang belum mampu untuk menjadi dewasa. Hidup dalam kemanjaan membuatku selalu ingin dimanja, dan satu yang aku sadari bahwa terlalu berat rasanya meninggalkan kemanjaan itu, apalagi aku seorang anak tunggal.
Terkadang seseorang memang harus begitu konsisten, namun konsisten juga terkadang amat sangat tidak dibutuhkan. Semua memiliki tempat untuk berpijak.
Membicarakan tentang perubahan manusia yang amat begitu cepat.
Namun beruntunglah mereka yang berubah ke arah kebaikan, bukan ke arah keburukan.
Tentu tidak asing bagi kita saat melihat sekeliling kita berubah. Perubahan tidak harus berlalu dengan begitu lamban. Terkadang yang kita lihat cepat sebenarnya adalah rantai-rantai panjang sebuah proses yang lamban.
aku ingat seorang teman, entah mengapa begitu cepat berubah. Dulu saat Sekolah Dasar aku menatap dia sebagai sosok yang begitu istiqamah, jilbaber tulen, namun saat mulai SMP aku melihat dia begitu berubah, amat sangat drastis. Pakaian dia begitu ketat, walau masih tetap berjilbab namun bukan lagi jilbaber. Jilbabnya tidak lagi panjang dan mulai menggunakan celana jins ketat.
hufttt, begitu cepat dunia berubah. Ada yang berubah bentuk fisik, hati, bahkan yang tidak mampu terlihat, namun semua itu berubah. Manusia sedang berada dalam proses, berada dalam lingkungannya menjadi sempurna atau malah berubah menjadi semakin tak menentu.
aku pernah baca cerita di suatu blog. Ada seorang ustazah di kampus yang menjadi mentor acara-acara pengajian, namun kemudian ustazah yang sangat anti-pacaran malah coba-coba untuk pacaran. aku tidak tahu, apa dia yang begitu niat, setan yang begitu keras menggoda, atau sang lelaki pujaan yang begitu handal menggombal, aku tidak tahu. Singkatnya sang ustazah berpacaran dengan lelaki tersebut, lalu mulai berjalan berdua. Berita terakhir, sang ustazah melepaskan status jilbabernya. Menanggalkan jilbab lebar kebanggaannya, meninggalkan baju lebarnya, meninggalkan Tuhannya dan menjualnya dengan dunia yang tidak akan pernah abadi ini.
Yah, demikianlah… manusia emang begitu cepat berubah, teramat cepat.
Wahai kamu semua, tak ada salahnya berubah namun jika perubahan itu menghancurkan dirimu maka konsistensi jauh lebih indah. ingat, "Terkadang kesalahan kita begitu sangat sederhana, yaitu salah menentukan pijakan"
Teman-teman sering bertanya, “rus, kamu tu ga berubah ya dari dulu“ atau “rus, kok kamu tuh kok kayak anak kecil e ?“. Jika aku menoleh ke kanan-kiri, ternyata mereka memang tidak berbasa-basi. aku memang belum mampu untuk menjadi dewasa. Hidup dalam kemanjaan membuatku selalu ingin dimanja, dan satu yang aku sadari bahwa terlalu berat rasanya meninggalkan kemanjaan itu, apalagi aku seorang anak tunggal.
Terkadang seseorang memang harus begitu konsisten, namun konsisten juga terkadang amat sangat tidak dibutuhkan. Semua memiliki tempat untuk berpijak.
Membicarakan tentang perubahan manusia yang amat begitu cepat.
Namun beruntunglah mereka yang berubah ke arah kebaikan, bukan ke arah keburukan.
Tentu tidak asing bagi kita saat melihat sekeliling kita berubah. Perubahan tidak harus berlalu dengan begitu lamban. Terkadang yang kita lihat cepat sebenarnya adalah rantai-rantai panjang sebuah proses yang lamban.
aku ingat seorang teman, entah mengapa begitu cepat berubah. Dulu saat Sekolah Dasar aku menatap dia sebagai sosok yang begitu istiqamah, jilbaber tulen, namun saat mulai SMP aku melihat dia begitu berubah, amat sangat drastis. Pakaian dia begitu ketat, walau masih tetap berjilbab namun bukan lagi jilbaber. Jilbabnya tidak lagi panjang dan mulai menggunakan celana jins ketat.
hufttt, begitu cepat dunia berubah. Ada yang berubah bentuk fisik, hati, bahkan yang tidak mampu terlihat, namun semua itu berubah. Manusia sedang berada dalam proses, berada dalam lingkungannya menjadi sempurna atau malah berubah menjadi semakin tak menentu.
aku pernah baca cerita di suatu blog. Ada seorang ustazah di kampus yang menjadi mentor acara-acara pengajian, namun kemudian ustazah yang sangat anti-pacaran malah coba-coba untuk pacaran. aku tidak tahu, apa dia yang begitu niat, setan yang begitu keras menggoda, atau sang lelaki pujaan yang begitu handal menggombal, aku tidak tahu. Singkatnya sang ustazah berpacaran dengan lelaki tersebut, lalu mulai berjalan berdua. Berita terakhir, sang ustazah melepaskan status jilbabernya. Menanggalkan jilbab lebar kebanggaannya, meninggalkan baju lebarnya, meninggalkan Tuhannya dan menjualnya dengan dunia yang tidak akan pernah abadi ini.
Yah, demikianlah… manusia emang begitu cepat berubah, teramat cepat.
Wahai kamu semua, tak ada salahnya berubah namun jika perubahan itu menghancurkan dirimu maka konsistensi jauh lebih indah. ingat, "Terkadang kesalahan kita begitu sangat sederhana, yaitu salah menentukan pijakan"
Kamis, 27 September 2012
Optimisme Hidup
Bob Butler kehilangan kedua kakinya pada tahun 1965 akibat ledakan
ranjau di Vietnam. Ia kembali ke negerinya sebagai pahlawan perang. Dua
puluh tahun kemudian ia sekali lagi membuktikan kepahlawanan yang murni
berasal dari lubuk hatinya.
Butler sedang bekerja di garasi rumahnya di sebuah kota kecil di Arizona pada suatu Hari dalam musim panas ketika ia mendengar jeritan seorang wanita dari salah satu rumah tetangganya. Ia menggelindingkan kursi rodanya ke rumah ini, tetapi semak-semak yang tinggi di rumah itu tidak memungkinkan kursi rodanya mencapai pintu belakang. Maka veteran itu keluar dari kursinya Dan merangkak tanpa peduli debu dan semak yang harus dilewatinya.
“Aku harus sampai ke sana,” ucapnya dalam hati. “Tak peduli bagaimanapun sulitnya.”
Ketika Butler tiba di rumah itu, ia tahu bahwa jeritan itu datang dari arah kolam. Di sana seorang anak perempuan berusia kira-kira tiga tahun sedang terbenam di dalamnya. Anak itu lahir tanpa lengan, sehingga ketika ia jatuh ke dalam kolam ia tidak dapat berenang. Sang ibu hanya bisa berdiri mematung sambil menangisi putri kecilnya. Butler langsung menceburkan diri Dan menyelam ke dalam dasar kolam lalu membawanya naik. Wajah anak bernama Stephanie itu sudah membiru, denyut nadinya tidak terasa Dan ia tidak benapas.
Butler segera berusaha melakukan pernafasan buatan untuk menghidupkannya kembali sementara ibunya menghubungi pemadam kebakaran melalui telepon. ia diberitahu bahwa petugas kesehatan kebetulan sedang bertugas di tempat lain. Dengan putus asa, ia terisak-isak sambil memeluk pundak Butler.
Sementara terus melakukan pernafasan buatan, Butler dengan tenang meyakinkan sang ibu bahwa Stephanie akan selamat. “Jangan cemas,” katanya. “Saya menjadi tangannya untuk keluar dari kolam itu. Ia akan baik-baik saja. Sekarang saya akan menjadi paru-parunya. Bila bersama-sama Kita pasti bisa.”
Beberapa saat kemudian anak kecil itu mulai terbatuk-batuk, sadar kembali Dan mulai menangis. Ketika mereka saling berpelukan Dan bergembira bersama-sama, sang ibu bertanya kepada Butler tentang bagaimana ia yakin bahwa anaknya akan selamat.
“Ketika kaki saya remuk terkena ledakan di Vietnam, saya sedang sendirian di sebuah ladang,” ceritanya kepada perempuan itu. “Tidak Ada orang lain di sekitar situ yang bisa menolong kecuali seorang gadis Vietnam yang masih kecil. Sambil berjuang menyeretnya ke desa, gadis itu berbisik dalam bahasa Inggris
patah-patah, “Tidak apa-apa. Anda akan hidup. Saya akan menjadi kaki Anda. Bersama-sama Kita pasti bisa.”
“Ini kesempatan bagi saya untuk membalas yang pernah saya terima,” katanya kepada ibu Stephanie.
Kita semua adalah malaikat-malaikat bersayap sebelah. Hanya bila saling membantu Kita semua dapat terbang ( Luciano De Crescenzo. )
Butler sedang bekerja di garasi rumahnya di sebuah kota kecil di Arizona pada suatu Hari dalam musim panas ketika ia mendengar jeritan seorang wanita dari salah satu rumah tetangganya. Ia menggelindingkan kursi rodanya ke rumah ini, tetapi semak-semak yang tinggi di rumah itu tidak memungkinkan kursi rodanya mencapai pintu belakang. Maka veteran itu keluar dari kursinya Dan merangkak tanpa peduli debu dan semak yang harus dilewatinya.
“Aku harus sampai ke sana,” ucapnya dalam hati. “Tak peduli bagaimanapun sulitnya.”
Ketika Butler tiba di rumah itu, ia tahu bahwa jeritan itu datang dari arah kolam. Di sana seorang anak perempuan berusia kira-kira tiga tahun sedang terbenam di dalamnya. Anak itu lahir tanpa lengan, sehingga ketika ia jatuh ke dalam kolam ia tidak dapat berenang. Sang ibu hanya bisa berdiri mematung sambil menangisi putri kecilnya. Butler langsung menceburkan diri Dan menyelam ke dalam dasar kolam lalu membawanya naik. Wajah anak bernama Stephanie itu sudah membiru, denyut nadinya tidak terasa Dan ia tidak benapas.
Butler segera berusaha melakukan pernafasan buatan untuk menghidupkannya kembali sementara ibunya menghubungi pemadam kebakaran melalui telepon. ia diberitahu bahwa petugas kesehatan kebetulan sedang bertugas di tempat lain. Dengan putus asa, ia terisak-isak sambil memeluk pundak Butler.
Sementara terus melakukan pernafasan buatan, Butler dengan tenang meyakinkan sang ibu bahwa Stephanie akan selamat. “Jangan cemas,” katanya. “Saya menjadi tangannya untuk keluar dari kolam itu. Ia akan baik-baik saja. Sekarang saya akan menjadi paru-parunya. Bila bersama-sama Kita pasti bisa.”
Beberapa saat kemudian anak kecil itu mulai terbatuk-batuk, sadar kembali Dan mulai menangis. Ketika mereka saling berpelukan Dan bergembira bersama-sama, sang ibu bertanya kepada Butler tentang bagaimana ia yakin bahwa anaknya akan selamat.
“Ketika kaki saya remuk terkena ledakan di Vietnam, saya sedang sendirian di sebuah ladang,” ceritanya kepada perempuan itu. “Tidak Ada orang lain di sekitar situ yang bisa menolong kecuali seorang gadis Vietnam yang masih kecil. Sambil berjuang menyeretnya ke desa, gadis itu berbisik dalam bahasa Inggris
patah-patah, “Tidak apa-apa. Anda akan hidup. Saya akan menjadi kaki Anda. Bersama-sama Kita pasti bisa.”
“Ini kesempatan bagi saya untuk membalas yang pernah saya terima,” katanya kepada ibu Stephanie.
Kita semua adalah malaikat-malaikat bersayap sebelah. Hanya bila saling membantu Kita semua dapat terbang ( Luciano De Crescenzo. )
Langganan:
Postingan (Atom)